Friday, October 12, 2012

Hubungan Antropologi dengan Ilmu Sosial Lainnya




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Berbicara tentang antropologi, pasti yang ada dalam pikiran adalah tentang kebudayaan masa lampau saja.
Banyak orang berpikir bahwa para ahli Antropologi adalah ilmuwan yang hanya tertarik pada peninggalan-peninggalan masa lalu; Antroplogi bekerja menggali sisa-sisa kehidupan masa lalu untuk mendapatkan pecahan guci tua, peralatan –peralatan dari batu dan kemudian mencoba memberi arti dari apa yang ditemukannya itu.
Hal tersebut tidaklah salah, namun Antropologi berusaha untuk melihat segala aspek dari diri mahluk manusia pada semua waktu dan di semua tempat, seperti: Apa yang secara umum dimiliki oleh semua manusia? Dalam hal apa saja mereka itu berbeda? Mengapa mereka bertingkah-laku seperti itu? Ini semua adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar dalam studi-studi Antropologi.(Leonard Siregar, 2002)
Dalam makalah ini penulis akan memaparkan tentang antropologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Selain itu penulis sedikit memaparkan tentang cabang-cabang ilmu antropologi.
B.    
RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian ilmu Antropologi?
2.      Apa saja cabang-cabang dalam ilmu antropologi?
3.      Bagaimana hubungan ilmu Antropologi dengan ilmu sosial lainnya?


           
           

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN ANTROPOLOGI
Antropologi adalah ilmu tentang manusia (Koentjaraningrat,2000:11). Yang dipelajari disini mulai dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos “manusia” dan logos “ilmu”.
Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan prilakunya. Ilmu antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.
B.     CABANG-CABANG DALAM ILMU ANTROPOLOGI
Leonard Siregar dalam Jurnal Antropologi Papua secara umum membagi Antropologi menjadi 3 bidang spesialisasi, yaitu Antropologi Fisik atau sering disebut juga dengan istilah Antropologi Ragawi. Arkeologi dan Antropologi Sosial-Budaya. 
1.      Antropologi Fisik
Antropologi Fisik tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk didalamnya mempelajari gen-gen yang menentukan struktur dari tubuh manusia. Mereka melihat perkembangan manusia sejak manusia itu mulai ada di bumi sampai manusia yang ada sekarang ini. Ahli Antropologi Fisik yang lain menjadi terkenal karena keahlian forensiknya; mereka membantu dengan menyampaikan pendapat mereka pada sidang sidang pengadilan dan membantu pihak berwenang dalam penyelidikan kasus-kasus pembunuhan.
2.      Arkeologi
Ahli Arkeologi bekerja mencari dan menelaah budaya awal bangsa-bangsa primitif, khususnya yang dinyatakan berupa artefak (Subagyo, 2010:126). Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali model-model kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direnkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi.
3.      Antropologi Sosial-Budaya
 Antropologi Sosial-Budaya atau lebih sering disebut Antropologi Budaya yang berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan Etnologi. Ilmu bangsa-bangsa ini mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah perkembangan kebudayaan manusia (Koentjoroningrat, 2000: 11).
Kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia, baik itu kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar inilah yang menjadi objek spesial dari penelitian-penelitian Antropologi Sosial Budaya. Dalam perkembangannya Antropologi Sosial-Budaya ini memecah lagi kedalam bentuk-bentuk spesialisasi atau pengkhususan disesuaikan dengan bidang kajian yang dipelajari atau diteliti.
Antroplogi Hukum yang mempelajari bentuk-bentuk hukum pada kelompok-kelompok masyarakat atau Antropologi Ekonomi yang mempelajari gejala-gejala serta bentuk-bentuk perekonomian pada kelompok-kelompok masyarakat adalah dua contoh dari sekian banyak bentuk spesialasi dalam Antropologi social-budaya (Leonard Siregar, 2002).

C.             Hubungan Antropologi Dengan Ilmu Sosial Lain
Antropologi dengan ilmu-ilmu bagiannya mempunyai hubungan yang sangat banyak dengan ilmu-ilmu sosial yang lain. Hubungan ini pada umumnya bersifat timbal-balik. Antropologi memerlukan bantuan ilmu-ilmu itu, dan sebaliknya ilmu-ilmu sosial yang lain juga memerlukan antropologi dalam memecahkan masalah yang dikajinya.
1.      Hubungan Antropologi dengan Sosiologi
Sepintas antropologi dan sosiologi mempunyai banyak persamaan, missalnya saja tentang obyek kajiannya yaitu ilmu yang mempelajari tentang manusia, bedanya sudut pandang yang digunakan. Antropologi lebih ke pendekatan asal-usul manusia dan kebudayaan yang dihasilkan, sedangkan sosiologi lebih memusatkan perhatian kepada umsur-unsur gejala khusus dalam masyarakat, dengan menganalisa kelompok-kelompok social yang khusus (social groupig) dan hubungan antar kelompok-kelompok atau individu-individu (social relation)(Koentjoroningrat, 2000: 29).
Karena banyak kesamaan dari kedua ilmu tersebut, maka tidak jarang apabila para sosiolog banyak meminjam konsep-konsep dan pendekatan-pendekatan antropologi dalam penelitian yang merekalakukan. Setelah memasuki abad ke-20 pemikiran para antropolog semakin berkembang, obyek kajian mereka juga semakin luas sehingga tidak jarang kajian bidang ilmu sosiologi juga menjadi kajian dalam antropologi. Misalnya saja kajian tentang dampak-dampak dari globalisasi dalam masyarakat.
2.      Hubungan Antropologi dengan Psikologi
Psikologi merupakan ilmu tentang jiwa (Bimo Walgito, 2003:1). Dapat dikatakan bahwa psikologi lebih menekankan pada pendekatan internal, yaitu dari dalam diri seseorang, sedangkan antropologi lebih menekankan pada aspek eskternalnya, yaitu lingkungan. Kedua unsur ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk sebuah kebudayaan. Untuk memahami pola-pola kebudayaan dalam masyarakat, seorang antropolog harus memperhatikan interaksi yang terjadi antara kedua unsur tersebut. Sedangkan seorang psikolog juga harus memperhatikan unsur eksternal yang membentuk sifat seseorang.
3.      Hubungan Antropologi dengan Sejarah
Terkadang latar belakang suatu peristiwa sejarah sulit diketahui hanya dari fakta-fakta yang ada di lapangan. Antropologi memberi bahan prehistoris sebagai sumber bagi setiap penulis sejarah (Koentjoroningrat, 2000: 35).  Kosep-konsep tentang kehidupan masyarakat yang terjadi saat peristiwa sejarah berlangsung, yang dikaji melalui pendekatan antropologi akan memberi pengertian banyak bagi seorang sejarawan untuk mengetahui latar belakang peristiwa tersebut. Selain itu banyak peristiwa sejarah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan antropologi. Misalnya saja dalam mengkaji sistem kepercayaan dan sejarah lokal dalam suatu masyarakat
Antropolog juga sangat memerlukan sejarah, terutama untuk menganalisa tentang kebudayaan suatu suku bangsa. Seorang antropolog terkadang menggunakan metode-metode sejarah untuk merekontruksi sejarah dari rangkaian permasalahan yang timbul dalam kebudayaan. Misalnya saja untuk menganalisa sebuah masyarakat yang mengalami pengaruh dari kebudayaan luar. Seorang antropolog harus mengetahui asal-usul dari pengaruh tersebut dan bagaiaman proses masuknya kebudayaan asing tersebut.

4.      Hubungan Antropologi dengan Geografi
Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi beserta isinya. Isi dari bumi itu sendiri adalah flora, fauna, manusia dan bentang alam yang ada dipermukaan bumi. Melihat obyek kajian dari geografi yang juga menyebut manusia yang beraneka warna disetiap daerah, maka tidak bisa dipungkiri lagi kalau geografi memerlukan antropologi dalam kajiannya. Karena antropologi mempelajari tentang berbagai warna manusia, baik dari segi suku bangsa, etnis, maupun ras (Koentjoroningrat, 2000: 36). Sebaliknya, antropologi juga memerlukan geografi untuk memepelajari tentang bentang alam. Karena salah satu yang mempengaruhi kebudayaan manusia adalah keadaan lingkungan fisik tempat mereka hidup.
5.      Hubungan Antropologi dengan Ekonomi
Kekuatan, proses dan hukum-hukum ekonomi yang berlaku dalam aktivitas ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi oleh keadaan masyarakatnya. Seorang ahli ekonomi yang akan membangun perekonomian di suatu Negara tentu memerlukan pengetahuan mengenai berbagai unsur kemasyarakatan dalam Negara tersebut. Untuk mengumpulkan keterangan tersebut ilmu antropologi sangat dibutuhkan oleh seorang ekonom.
Perubahan dalam bidang ekonomi sendiri mempunyai andil yang sangat besar dalam perubahan kebudayaan masyarakatnya. Semakin maju perekonomian suatu masyarakat, maka kebudayaannya pun ikut berubah. Terkadang untuk menganalisa perubahan kebudayaan dalam masyarakat, antropolog juga memerlukan pendekatan ekonomi.



6.      Hubungan Antropologi dengan Politik
Seorang politikus dalam meneliti maupun menganalisa suatu sistem politik maupun kekuatan politik dari suatu Negara tentu saja memperhatikan sistem pemerintahan, kekuatan-kekuatan politik dan masalah latar belakang budaya dari kekuatan politik tersebut. Adapun yang menyangkut latar belakang kekuatan politik yaitu prinsip ideologi, sistem norma, adat istiadat dan tradisi dari semua kalangan yang menyusun kekuatan politik tersebut. Agar dapet memahami latar belakang penyusun kekuatan politik tersebut, diperlukan metode analisa antropologi.
Seorang antropolog dalam mempelajari suatu masyarakat atau suatu suku juga akan menghadapi tentang konsep kekuasaan yang terdapat dalam suku tersebut. Dalam menganalisa fenomena tersebut sudah tentu mereka memerlukan konsep-konsep dan teori-teori ilmu politik (Koentjoroningrat, 2000: 39).
7.      Hubungan Antropologi dengan Ilmu Hukum Adat
Antropologi digunakan oleh banyak ahli hukum, terutama hukum adat untuk melakukan penelitian tentang hukum adat yang berlaku di beberapa tempat. Antropologi penting digunakan karena hukum adat bukan merupakan hukum yang tertulis seperti KUHP atau Undang-Undang, melainkan hukum yang timbul dan hidup langsung dalam masyarakat.
Antropologi juga memerlukan bantuan dari ilmu hukum karena setiap masyarakat pasti mempunyai hukum yang digunakan dalam pengendalian social (social control). Hukum yang berlaku dalam masyarakat turut mempengaruhi kebudayaan yang ada dalam masyarakat tersebut. Untuk itu seorang antropolog harus mempunyai pengetahuan umum tentang konsep-konsep hukum.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Antropologi merupakan the study of man. Kebudayaan merupakn bidang garapnya. Untuk mempelajari kebudayaan tersebut maka membutuhkan ilmu-ilmu sosial lainnya. Begitu juga ilmu-ilmu social lain juga membutuhkan antropologi dalam prakteknya.
B.     Saran
Dengan terselesainya makalah tersebut penulis berharap semoga makalah dapat berguna bagi penulis dan pembaca. Penulis  mengetahui bahwa makalah masih jauh dari sempurna, maka penulis mohon maaf dan menunggu kritikan yang membangun dari pembaca.



DAFTAR PUSTAKA
Koentjoroningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Siregar, Leonard, dkk. 2002. Jurnal Antropologi Papua. Jayapura: Laboratorim Antropologo Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik Universitas Cendrawasih
Subagyo. 2010. Membangun Kesadaran Sejarah. Semarang: Widya Karya
Walgito, Bimo 2003. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit ANDI

3 komentar:

Post a Comment